Naufal Prima Dani
Naufal Prima Dani (lahir di Temanggung, Jawa Tengah) adalah seorang penulis, santri, dan guru muda yang dikenal dengan karya-karyanya di bidang sastra. Ia merupakan sosok inspiratif yang berhasil menggabungkan pendidikan pesantren dengan minatnya dalam dunia literasi.
Kehidupan dan Pendidikan
Naufal memulai perjalanan menulisnya sejak duduk di bangku kelas 1 SMP di SMP Syubbanul Wathon Tegalrejo. Bakatnya ini terus diasah selama ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren API Asri Tegalrejo, Magelang, yang memberikan pengaruh kuat pada nilai-nilai moral dan spiritual dalam karyanya.
Selain sebagai seorang penulis, Naufal juga aktif dalam kegiatan organisasi. Ia tercatat sebagai pengurus Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), menunjukkan keterlibatannya dalam kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan. Saat ini, ia juga berprofesi sebagai guru Bahasa Arab di MA Miftahul Huda Bulu, Temanggung.
Karya-karya Sastra
Naufal Prima Dani telah menghasilkan beberapa karya, baik dalam bentuk novel maupun naskah film. Ia dikenal sebagai penulis yang produktif dan berani mengangkat tema-tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan pesantren.
Novel-novelnya antara lain:
- Ilyas dan Eropa: Cinta yang Gemerlap (2021)
- Pena (2024) - Novel ini diluncurkan pada acara Wisuda Santri 2024 di Pesantren API Asri. Novel ini menceritakan perjalanan seorang santri dalam meraih mimpinya dan sarat dengan nilai-nilai moral serta spiritual yang bertujuan memotivasi pembacanya. Novel ini tidak hanya ditulis oleh Naufal, tetapi juga didesain sampulnya oleh dirinya sendiri, dan diterbitkan oleh Mata Kata Inspirasi.
Selain menulis, Naufal juga memiliki kemampuan di bidang penyutradaraan dan penulisan naskah film, yang menunjukkan bakat serbaguna dalam dunia kreatif.
Prestasi dan Pengakuan
Karya-karya Naufal telah mendapat apresiasi, terutama di kalangan pesantren dan pegiat literasi. Peluncuran novelnya, Pena, mendapatkan dukungan dan kebanggaan dari Pengasuh Pesantren API Asri, KH Nasrul Arif, yang melihatnya sebagai bukti bahwa santri tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga mampu berkarya di bidang lain.
